Pemerintah Kabupaten Toraja Utara meminta pelaksanaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) menjangkau persoalan pengasuhan dan lingkungan tempat tinggal keluarga sasaran. Hasil pemantauan masih menemukan keterbatasan akses sanitasi, air bersih, kondisi rumah, serta bantuan nutrisi yang memerlukan penanganan lintas perangkat daerah.
“Pelaksanaan GENTING tidak boleh hanya berhenti pada pemberian bantuan pangan bergizi, tetapi harus menjadi sarana pendampingan dan pemantauan berkelanjutan. Kita tidak hanya memberi makanan kepada anak-anak, tetapi juga harus mendampingi, memberikan edukasi mengenai pola asuh, sanitasi sehat dan pemenuhan gizi seimbang,” ujar Wakil Bupati Andrew Branch Silambi dalam kegiatan pemantauan perkembangan keluarga berisiko stunting dan pelaksanaan GENTING di Ruang Pola Kantor Bupati Toraja Utara, Senin (5/10/2026).
Ketepatan bantuan bergantung pada informasi mengenai kebutuhan masing-masing keluarga. Andrew meminta data keluarga berisiko stunting diperbarui secara berkala dan diperiksa melalui kunjungan lapangan agar intervensi sesuai dengan kondisi penerimanya.
Dalam laporan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Toraja Utara Yohanis Moni’, data Januari–Agustus mencatat 3.321 keluarga berisiko stunting di 10 kecamatan. Pemantauan telah dilakukan di sejumlah kecamatan untuk memeriksa pelaksanaan pendampingan.
“Monitoring ini dilaksanakan untuk memastikan ketepatan sasaran intervensi, memantau kinerja Tim Pendamping Keluarga serta mengidentifikasi hambatan yang ada di lapangan,” ungkapnya.
Selain persoalan lingkungan dan ketersediaan bantuan nutrisi, hasil pemantauan menunjukkan perlunya penguatan kapasitas kader serta sistem pelaporan. Temuan tersebut memperlihatkan kebutuhan penanganan yang berbeda antarkeluarga dan memerlukan tindak lanjut sesuai kewenangan instansi terkait.
Untuk persoalan tempat tinggal, data pendampingan perlu terhubung dengan perencanaan program perumahan dan permukiman. Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Toraja Utara Robyanto Popang meminta sinkronisasi data keluarga yang menghadapi masalah rumah tidak layak huni, sanitasi, serta akses air bersih.
Data yang telah diselaraskan diharapkan dapat digunakan untuk menentukan prioritas intervensi dan pengusulan program pada tahun anggaran berikutnya. Dengan demikian, temuan lapangan mempunyai jalur tindak lanjut dalam perencanaan perangkat daerah.
Pelaksanaan GENTING di Kecamatan Sopai memberi gambaran keterlibatan orang tua asuh dalam pendampingan. Camat Sopai Manaek Monalisa Bara’ Allo melaporkan sebanyak 16 orang tua asuh terlibat dengan sasaran 35 keluarga.
Ia mengusulkan lebih banyak perangkat daerah mengambil peran sebagai orang tua asuh. Penguatan pelayanan Posyandu di wilayah yang sulit dijangkau juga diajukan untuk membantu keluarga memperoleh layanan lebih dekat.
Menanggapi kebutuhan tersebut, Dinas Kesehatan menjelaskan bahwa pembentukan Posyandu baru harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan mengikuti ketentuan yang berlaku. Pemerintah lembang atau kelurahan bersama masyarakat setempat perlu dilibatkan dalam prosesnya.
Keaktifan keluarga membawa anak ke Posyandu juga mendapat perhatian agar pertumbuhan dan perkembangan dapat dipantau secara rutin. Pelayanan ini merupakan salah satu bagian yang diminta pemerintah daerah untuk diselaraskan dengan pendampingan GENTING.
Keterlibatan lintas sektor mencakup perangkat daerah, pemerintah kecamatan, lembang dan kelurahan, dunia usaha, serta akademisi. Wabup meminta kerja bersama tersebut diarahkan pada kebutuhan keluarga yang teridentifikasi melalui pemantauan.
Dalam pembahasan, pemerintah daerah juga meminta penyelarasan GENTING dengan program Makan Bergizi Gratis, intervensi kesehatan, perbaikan rumah, sanitasi, dan pemenuhan administrasi kependudukan. Tindak lanjutnya diharapkan mencakup bantuan pangan, edukasi, serta penanganan kondisi lingkungan sesuai persoalan masing-masing keluarga.
Diskominfo-SP - 2026















